hujan
Hujan,
melodi pengiring kehidupan
Hujan membuat rinduku meluap tak tertahankan
Tuhan,
aku begitu memikirkan mereka
Sesak dada ini
Penuh otak ini
Memikirkan mereka
Tuhan,
apa mereka juga begitu?
Apa mereka memikirkanku?
Atau,
Melupakanku?
Aku takut jiwaku merapuh
Dikala merindu
Tak sekeras dahulu
Dikala bersama mereka
Tuhan,
Tolong jagalah lentera di hatiku ini
Dan di hati mereka
-->
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 20 November 2009
Cerminku yang Munafik
rupa hatiku
Hati ini bak sebuah cermin
Mempunyai dua sisi
Terang dan gelap
Cermin yang terang
selalu orang elu-elukan
Kebersihannya
Kesabarannya
Kebaikannya
Kejujurannya
Mana??
Tak bisa aku melihat bayangan yang terpantul sedikit pun!
Yang terlihat, hanyal debu yang kian hari makin menebal!
Yang terlihat, hanyalah kotoran yang melekat dengan erat pada cermin itu!
Mana rupamu yang bersih?! Berkilau dan bercahaya?!
Yang selalu dianggap elok oleh segelintir orang?!
Hanya segelintir padahal!
Angkuhnya dirimu wahai cermin! Sombong sekali!
Padahal Cermin yang lain dengan tulus memantulkan sinarnya untuk menerangi cermin ini!
Memalukan!
Ketulusan cermin lain kau injak injak!
Kau anggap sampah dan selalu kau salahkan!
Padahal itu salahmu sendiri wahai cermin!!
Kau anggap apa cermin lain?
Yang senantiasa bersamamu!
Menemanimu!
Mengajarimu!
Menyemangatimu!
Sungguh hina cermin ini!
Cermin yang terang kini tak secantik dahulu
Kini, samalah dia dengan bagian cermin yang gelap
Tak bisa memantulkan cahaya
Dan tak pernah dilihat orang
By: Peetaa - 06112009
Hati ini bak sebuah cermin
Mempunyai dua sisi
Terang dan gelap
Cermin yang terang
selalu orang elu-elukan
Kebersihannya
Kesabarannya
Kebaikannya
Kejujurannya
Mana??
Tak bisa aku melihat bayangan yang terpantul sedikit pun!
Yang terlihat, hanyal debu yang kian hari makin menebal!
Yang terlihat, hanyalah kotoran yang melekat dengan erat pada cermin itu!
Mana rupamu yang bersih?! Berkilau dan bercahaya?!
Yang selalu dianggap elok oleh segelintir orang?!
Hanya segelintir padahal!
Angkuhnya dirimu wahai cermin! Sombong sekali!
Padahal Cermin yang lain dengan tulus memantulkan sinarnya untuk menerangi cermin ini!
Memalukan!
Ketulusan cermin lain kau injak injak!
Kau anggap sampah dan selalu kau salahkan!
Padahal itu salahmu sendiri wahai cermin!!
Kau anggap apa cermin lain?
Yang senantiasa bersamamu!
Menemanimu!
Mengajarimu!
Menyemangatimu!
Sungguh hina cermin ini!
Cermin yang terang kini tak secantik dahulu
Kini, samalah dia dengan bagian cermin yang gelap
Tak bisa memantulkan cahaya
Dan tak pernah dilihat orang
By: Peetaa - 06112009
Langganan:
Postingan (Atom)