Copyright by

winarno

-->

my album

Minggu, 20 Desember 2009

PUTRI BERAMBUT PUTIH

Folk Tale : Palembang

Di jaman kekuasaan Sunan Palembang, di desa Perigi, Kayu Agung. Kabupaten OKI, hiduplah seorang puteri :, yang tidak ada bandingnya pada waktu itu. Dia si Puteri Rambut Putih yang sakti. Kalau ia meludahi ke rambut orang, rambut orang itu menjadi putih. Karena itulah, dia terkenal. Semua pemuda maupun orang mau melamarnya. Sayangnya, siapa yang datang ke dia, karena ampuhnya air ludahnya itu, rambut orang itu menjadi putih. Itulah sebabnya dia bernama ibut Putih. Di samping sombong, dia mempunyai kakak yang bernama Langkuse. Kerjanya bertapa ilmu kebatinan. Kesaktiannya terkenal ke mana mana belum ada yang dapat mengalahkannya.

Sunan mendengar tentang kecantikan adik Langkuse, dan Sunan bermaksud meminangnya. Diutusnya anak buahnya untuk melamar Puteri Rambut Putih itu. Mereka membawa piring yang berisikan berlian, intan. dan emas. Tetapi tidak mendapat sambutan, malahan orang yang diutus itu rambutnya berupah jadi putih karena di ludah puteri. Oleh karena tidak berhasil, utusan itu pulang. Kepada Sunan diceritakannya kejadian yang dialaminya. Merasa sakit hati, dia memerintahkan kepada anak buahnya. Katanya. "Coba selidiki oleh kamu kekuatan dari Putri Rambut Putih!". Kemudian mereka berusaha menyelidiki. Tidak mungkin kecuali diculik saja putri itu. Pergilah utusan itu dengan cara diam-diam masuk ke desa Perigi.

Utusan itu mencari berita tentang kekuatan atau kelemahan putri itu. Putri itu sombong karena ia mempunyai kakak yang sakti. yaitu Lengkuse . Pulanglah utusan itu melapor ke Sunan. Hasil penyelidikan yang dilihatnya dilaporkannya kepada Sunan.
Mendengar laporan itu. Sunan berpikir, "Kalau demikian, bagaimana mencari akal. Bagaimana caranya membunuh Langkuse. Kakak putri itu?" Di belakang desa perigi itu ada hutan yang dihuni oleh seekor kerbau yang liar dan ganas. Telinganya disarangi lebah menandakan betapa ganasnya kerbau itu. Apabila dia tercium dengan manusia. dia terus mendengus-dengus dan mengejar manusia itu. Di samping ada kerbau yang ganas, ada pula sebuah sumur yang dalam dan besar di dalam hutan itu. Setelah berpikir dengan matang, berangkatlah Sunan dan hulubalangnya.

Kebetulan, Langkuse tidak ada di rumah, dia sedang bertapa di ujung desa Tulung. Kemudian dia ditemui pengawal. "Kamu disuruh menghadap Sunan. Sunan ingin berbicara denganmu!" Langkuse berangkat, terus dia menghadap Sunan. "Gusti, saya sudah tiba, apakah perintah Gusti". kata Langkuse kepada Sunan. "Hai Langkuse. di belakang desa itu ada seekor kerbau yang ganas yang suka menghabiskan kebun, huma orang, sehingga berbidang-bidang huma dihabiskannya. Oleh karena itu, coba tangkap atau bunuh kerbau yang ganas itu!" "Baiklah Gusti, kalau demikian perintahmu", jawab Langkuse.
Tanpa berpikir panjang lagi. Langkuse masuk hutan di belakang desa Perigi itu, mencari di mana kerbau yang ganas itu. Di tengah perjalanan, kerbau itu telah tercium bau Langkuse itu. Gemuruhlah bunyi bumi dan Langkuse dalam keadaan siap. Siapa sebenarnya yang datang itu, betapa hebatnya goyangnya itu. Husss, husss, bunyi dengusan kerbau itu. Langkuse bersiap, Husss, husss, rupanya kerbau itu langsung menyeruduk. Langkuse mengelak. Kembali lagi kerbau itu menyerang Langkuse. Langkuse tidak mengelak. "Bluur" ditinju. Kerbau dipukulnya, dibawanya pulang ke desa, diserahkannya kepada Sunan. "Gusti, inilah kerbau itu!"
'Nah. dapat dikalahkan." pikir Sunan lagi. "Aah, mampu orang ini. Langkuse. Cincinku jatuh di sumur itu, coba ambilkan!". kata Sunan kepada Langkuse. Rupanya dalam sumur itu sudah dipasangi tombak-tombak yang tajam yang arahnya ke atas. "Bailah Gusti'' jawab Langkuse. Tanpa berpikir, Langkuse terjun ke sumur langsung menyelam memenuhi perintah Sunan. Kedengaranlah bunyi gemeretak, rupaya tombak-tombak itu patah-mematah. Ketika timbul kembali, Langkuse berkata, "Nah Gusti, inilah cincinmu." Langkuse menyerahkan cincin itu kepada Sunan.

Setelah diterima Sunan cincinnya. pulanglah Sunan untuk mengadakan sidang. Semua hulubalang berkumpul. Sunan membuka sidang. "Siapa di antara kalian yang sanggup mengambil (menculik) Putri Rambut Putih itu'?" Rupanya semua hulubalang tidak ada yang menjawab. Hening, sepi, seperti sampah jatuhnya tidak kedengaran. "Kalau demikian, tidak ada yang sanggup," kata Sunan. "Bagaimana juga kita buat sungai pintasan dari sini, dari Teloko sampai Tanjung Agung. Gali, kita buat sungai!" Setelah itu bekerjalah semua rakyat, semua hulubalang. Akhirnya, sungai pintasan itu. selesai. Berangkatlah Sunan beserta hulubalang melalui sungai pintasan yang digali orang itu. Sampai di batas Tanjung Agung. Sunan mendarat, berjalan kaki. Jaraknya kira-kira dua kilometer dari desa Perigi.

Kebenaran pula, Langkuse tidak ada di rumah, dia sedang bekerja di sungai. Sedangkan adiknya, Putri Rambut Putih itu asyik membuat periuk bolang, di bawah rumahnya. Sunan menculiknya, dibawanya ke kapalnya, dimasukkannya ke dalam kamar. Rupanya kejadian itu terlihat oleh tetangganya itu. Dia memberitahukan Langkuse yang sedang berada di sungai. "Langkuse, Langkuse, adikmu diculik Sunan", kata orang melihatnya itu. Langkuse menjawab, "Biarlah, kamu pulanglah!" Oleh karena tidak mendapat reaksi Langkuse, orang itu pulang. Datang pula orang lain. Orang itu berkata,
"Langkuse, lihatlah. adikmu diambil Sunan. Dibawanya ke kapal. Langkuse menjawab pula. "Sudah kukatakan, biarlah. kepalang saya di sungai dahulu." Pergilah orang yang memberitahukan itu. Datang pula orang yang ketiga. Saat itu Langkuse sudah selesai kerjanya. "Langkuse. adikmu diambil Sunan, dibawanya ke kapal.' : Dibawa ke mana adik itu?" "Ke Kapal." Nah, kamu pulanglah, saya akan membututinya." Tak lama kemudian. Langkuse berpakaian. Sekali lompat saja. dia sudah tiba di Tanjung Agung. tempat kapal Sunan berlabuh. "Gusti, tolong imbangi kapalmu ini, saya akan turun ke kapal," kata Langkuse. "Ha. mau turun, turunlah'', jawab Sunan. "Nanti tenggelam kapalmu ini!" "Tidak!", kata Sunan. Langkuse melompat ke kapal diambilnya adiknya itu.
Sunan dan hulubalang heran karena kapal itu miring dan terus tenggelam ketika dinaiki Langkuse itu. Karena bingung. Sunan tidak tahu kapan Langkuse mengambil adiknya itu.
Sedangkan Sunan merasa kecewa dan dendam. Dia pulang kembali ke Palembang. Dia berpesan kepada sanak keluarganya di Palembang, "Mulai saat ini, jangan mengambil keturunan orang Kayu Agung, tidak akan selamat. Kalau kalian langgar, apa boleh buat, kalian akan celaka!" Sampai sekarang ini, orang Palembang asli keturunan Sunan tidak ada lagi yang menjodohkan keturunannya dengan orang Kayu Agung. Mereka takut dengan sumpah Sunan.
***
Sumber : Gaffar. Zainal Abidin. 1984. "Struktur Sastra Lisan Kayu Agung". Laporan Penelitian.

PRINCESS SEDORO PUTIH

This folktale comes from The Rejangese ethnic group. Once upon a time, there were seven brothers and sister living in an isolated village. They were really struck by disaster; they had been orphaned since the youngest one was born. The seven brothers and sister consisted of six brothers and one sister. The youngest one, their sister was called Princess Sedoro Putih.
The seven brothers and sister lived as farmers for a tract of land nearby the forest. The sister was really loved by her six brothers. They always give protections for the youngest safety from every dangerous thing.

They tried to fulfill her necessity as strong as they could.
At one night, when the Princess was sleeping, she dreamed strangely. An old man visited her.
“Princess Sedoro Putih, you are really a grandmother of your six brothers. Your death is close, so prepare yourself to face it.”
“I am going to be dead?” asked the Princess curiously.
“Right, and a tree that never be existed before will grow from your tomb. The tree will give many useful things for humankind.
After giving that message, the old man disappeared and Princess Sedoro Putih waked up from her sleep. She sat silently and thought about the meaning of her dream.
The Princess was impressed about her dream so that she always imagined her death. She forgot eating and drinking. It caused her thin and pale.
The oldest brother, who substituted their parents’ role, really cared about Princess Sedoro Putih. He asked why she looked sad like that. “Are you suffering from a disease so that you need to be cured immediately? “Don’t be late to be cured because it could be worse”
Princess Sedaro Putih sobbed her heart out and told her brother about all the dreams that she had. The Princess said, ”If my dream is right that a tree which will grow from my body will make many people happy, I will sacrifice for that”.
“No, my sister. Don’t leave us so soon. We will live together, until we have our own children to continue our generations. Forget that dream. Dreams are decorations of all people’s sleep, aren’t they?” said the oldest trying to make his sister happy.
Day by day had gone away, and Princess Sedaro Putih forgot the dream. She had been returned into herself, a cheerful girl, liked to work at home. Moreover, the crops had been stored as supplies for one season.
At one night, Princess Sedaro Putih was dead without suffering from any disease. And the day after, the six brothers were in an uproar mourning over their beloved sister death. They buried her not far from their house.
Just like as Princess Sedaro Putih said, there was a strange tree growing up in the middle oh her tomb. They had never seen such a tree before. They took care of that tree with love just like as they did to the Princess. They named the tree Sedaro Putih.
There was a Kayu Kapung tree growing next to Sedaro Putih tree. That tree was also cared and believed as a protector tree.
Five years later, Sedaro Putih tree started blooming and bearing fruit. As the wind blowing, the bough of Kayu Kapung always hit the stalk of Sedaro Putih until it turned into bruised and stretched its cells caused the water of Sedaro Putih flown toward the fruit easily.
One day, a brother of Princess Sedaro Putih visited the tomb. He was taking a rest in order to kill the exhaustion and noticing the Kayu Kapung tree that always hit the stalk of Sedaro Putih when the wind blowing.
At the same time, a squirrel was coming close to a fruit of Sedaro Putih tree and biting it apart from the stalk. From the stalk, which its fruit had been apart, a clear yellow liquid came out. The squirrel was satisfied licking that liquid. Princess Sedaro Putih’s brother noticed that event until the squirrel left the place.
Princess Sedaro Putih’s brother came close to the tree. The flowing liquid from the stalk was stored in his palm of hand, licked by him in order to know the taste. Apparently, the liquid was very sweet. He went home to see his brothers with a gleam on his face.
All the incidents that he had seen were told to his brothers in order to learn about. This story was really interesting for them. Then, they agreed to make incisions in the tree to obtain sap of the stalk of Sedaro Putih tree.
The stalk was cut and the water that came out from the cut tracks was stored in a bamboo tube called tikoa. The tikoa was almost full in one night. Their first result was enjoyed by themselves and discussing the way to increase the sap. Then they agreed to make incisions to the other stalks.
In order not to be failed, they did the incidents orderly just like as their brother had seen when he visited the tomb. The chronology was : first, shaking the stalks just like when the wind blowing. Then, hit the stalks using the bough of Kayu Kapung just like when Kayu Kapung was blown by the wind. Finally, they cut the stalks just like as the squirrel did. In addition, the bamboo tube was hanged over there. Apparently, the result was the same as their first cut.
Their result was increasing day by day because several stalks that grew from Sedaro Putih tree had given their results. Nevertheless, there was a problem for them because of the sap would be sour if stored too long. Then, they agreed to make an experiment by boiling the sap in order to make it thick. The thickened water was cold until turned into a yellowish brown hard-frozen thing.
Since those incidents, Sedaro Putih tree has been known as Enau tree or Arenga Palm. The liquid that comes from the stalks is called Nira, and this Nira, which is boiled into a hard-frozen thing, is named Brown Sugar, This Brown sugar is very useful for humankind, as good as cooking and drinking material or as the sweetener for traditional tonic.

Princess Pinang Masak

A Folktale from Senuro Village in South Sumatera Province
Full Text Version

Once upon a time there was a beautiful girl. Her name was Napisah, but she was also called Princess Pinang Masak. In the local language pinang masak means ripe areca nut. Perhaps she was as beautiful as a ripe areca nut to the people of her village.
This beautiful young girl lived in a small kingdom ruled by a king. The King was known to be fond of bringing young, beautiful girls to his court and keeping them there for his own pleasure.
The King had heard that in this small village there lived a beauty named Princess Pinang Masak. Her beauty was said to be unmatched throughout the whole kingdom. It was the talk of the entire kingdom and many young men had already competed to marry her.
The King wanted to know the truth of this matter, so he ordered several of his chief commanders to take this Princess Pinang Masak and bring her to his palace.
When Princess Pinang Masak heard of the king’s intention, she was distressed. She decided she would rather die than join the many young women held prisoner at the king’s palace. She sought a way to avoid being taken there, but she knew it would be hard to escape the king’s vicious soldiers.
Then she thought of a plan. Princess Pinang Masak boiled deep purple banana blossoms until she had a vat of dark liquid. Then bathed in the maroon-colored banana blossom water. As she covered herself in this dark liquid, her skin began to look streaked and dirty. Her beauty was disguised and ruined. Then she put on the oldest rags she could find and waited for the king’s soldiers to arrive.
When the soldiers came to take her to the palace, they found no beauty, but only a dirty looking, unsightly girl in rags. They could not believe the king wanted this creature, but they took her to the palace as commanded.
When they brought her to the king, he was horrified and disgusted that such an unsightly girl should be brought before him. Immediately he expelled Princess Pinang Masak from his palace and harshly sent her back to her village.
However her misfortune did not end with that. Young men continued to arrive at her village proposing marriage, for the fame of her beauty still was known far and wide.
News of her continued suitors reached the king. He wondered if he had been deceived in some way, and sent soldiers to investigate. When they reported that the Princess Pinang Masak was indeed very beautiful, he ordered her captured and brought once more to the palace.
But, Princess Pinang Masak had heard of the king’s intentions. She called her four faithful friends and two guards and they planned for her to escape. Leaving by night, the seven sailed along the rivers and lowlands looking for a new place to avoid the pursuit of the soldiers.
Their boat passed a wide lowland which was later called Lebak (lowland) Maranjat and a bay (teluk) called Teluk Lancang. Before long they sailed through a swamp which had a fast current.
Traveling so far, they at last discovered a safe, hidden place to reside and settled down there. The people nearby welcomed Princess Pinang Masak. Living here, the princess changed her name and took the name of Princess Senuro. Gradually the place grew into a village and was named Senuro village after the lovely princess.
In this new place, Princess Senuro was still the young men’s ideal. She taught basketry skills and instructed in the making of plaited materials such as baskets and other kitchen utensils. It was said that she could plait a basket so well that it could not be penetrated by water.
Years passed. One day Princess Senuro fell ill. With time her sickness became worse and worse. Before she
died she swore an oath. “I beg God Almighty that my descendants should not be as beautiful as I am. Beauty can cause calamities such as have befallen me.”
After she spoke this oath, she breathed her last. She left her four faithful friends and two brave guards who had protected her until her death. Her four friends and two guards remained living in this village until they too died and were buried beside the grave of Princess Senuro.
For the people in that village, Princess Senuro is a symbol of women who hold in high esteem the dignity of women.

As for the evidence of Princess Senuro’s oath, people say that since that time the girls in Senuro village are less beautiful than girls from other villages.
•••••

Source:
Contributed by Murti Bunanta of Jakarta. It is from her book Indonesian Folktales (Libraries Unlimited, 2003, this version as retold by Lee-Ellen Marvin, folklorist and storyteller

Nantu Kesumo - Legenda Bangka Hulu - Asal Usul Nama Bengkulu

Oleh Tun Jang

Konon orang yang pertama-tama menghuni Bengkulu ialah Nantu Kesumo dan kawan-kawannya. Ia datang dari Demak di pulau Jawa. Ia memasuki daerah Bengkulu lewat pantai (pasar Bengkulu sekarang).

Di tanah yang baru ini, Nantu Kesumo dan kawan-kawannya menghadapi tantangan yang sangat berat. Tanah Bengkulu masih merupakan hutan belantara. Binatang-binatang buas dan liar masih hidup dengan bebas namun Nantu Kesumo mempunyai kesaktian dan ilmu yang tinggi. Ia tidak takut pada binatang-binatang buas itu.

Konon pada waktu Nantu Kesumo dan kawan-kawannya sedang membuka hutan untuk membangun kampung, mereka bertemu dengan ular yang sangat besar. Ular itu dapat mereka bunuh. Badan ular yang panjang itu dipotong menjaditiga bagian sama panjang. Ketiga bagian tubuh ular itu masing-masing menjelma menjadi meriam sapu ranjau, tombak bejabai, dan tabu berantai. Untuk memperingati kisah ini, tiap-tiap mengadakan pesta perkawinan dengan memotong kerbau mesti ada tombak berambu payung kering.

Kampung yang dibangun pertamakali itu bernama Tanah Tinggi. Suatu hari penduduk kampung Tanah Tinggi itu melihat batang bangka hanyut ke hulu. Batang bangka itu sebangsa pohon pinang. Pohon bangka itu sangat aneh, bentuknya melingkar lingkar, mulai dari pangkal sampai ke ujungnya. Keanehan pohon ini mengundang penduduk Tanah Tinggi untuk menyaksikannya.

Dari kejadian inilah penduduk Tanah Tinggi menamakan tanah kediaman mereka dengan Bangka Hulu, yang berasal dari kata bangka dan hulu. Sejak saat itulah nama Bengkulu dipakai orang.

Alkisah diceritakan bahwa Nantu Kesumo datang ke Bengkulu dalam keadaan bujangan. Ia datang bersama saudaranya bernama Kayu Mentiring. Kepada saudaranya inilah dia meminta nasehat dan pertimbangan.

Sebagai manusia biasa yang normal, Nantu Kesumo tidak tahan hidup membujang terus.

Akan tetapi dia tidak mau kawin dengan wanita biasa. Wanita yang menjadi idamannya adalah Ratu Aceh. Kecantikan Ratu Aceh sudah terkenal ke mana-mana, karena itulah Nantu Kesumo bermaksud menjadikannya sebagai istri. Ia akan pergi ke Negeri Aceh untuk melamar.

Sebelum berangkat ke negeri Aceh ia mengutarakan niatnya itu kepada Kayu Mentiring, "Saudaraku Kayu Mentiring, saya berniat pergi ke negeri Aceh, dengan maksud untuk melamar Ratu Aceh. Doakanlah agar maksud saya berhasil", kata Nantu Kesumo.

"Ingat Nantu Kesumo anatara kita dan negeri Aceh selalu bermusuhan, lamaranmu mustahil diterima", kata Kayu Mentiring.

Niat Nantu Kesumo untuk memperistri Ratu Aceh sudah nekat, oleh karena itu saudaranya terpaksa menyetujui seraya katanya, "Kalau demikian maumu, saya akan membantumu. Apapun yang terjadi kita hadapi bersama".

Alkisah, berangkatlah Nantu Kesumo seorang diri dengan perahu yang bernama Rejung Kelam.

Setelah kurang lebih sebulan berlayar sampailah ia ke tepi pantai tempat pemandian Raja Aceh. tempat ini selalu dijaga oleh hulubalang raja, dengan senjata meriam yang diarahkan ke laut untuk menembak musuh.

Perahu Nantu Kesumo dapat dilihat oleh hulubalang raja, penjaga pemandian. Mereka menembakkan meriam kearah perahu Nantu Kesumo. Tak satupun peluru meriam mengenai Nantu Kesumo. Ia tidak tembus oleh peluru. Penjaga pemandian lari ketakutan. Nantu Kesumopun mendarat dan masuk ke negeri Kerajaan Aceh.

Alkisah pada waktu itu kerajaan Aceh sedang merayakan pertunangan Ratu Aceh. Salah satu acaranya adalah mengadakan gelanggang pertaruhan selama tiga bulan. Barang siapa yang akan mengikuti pertaruhan harus minta izin kepada kakak Putri Aceh bernama Raden Cili. Sesudah mendapat izin, calon peserta harus menyerahkan dua peti uang kepada Putri Aceh. Satu peti berbentuk panjang, satu lagi berbentuk pendek. Nantu Kesumo menggunakan kesempatan ini untuk bertemu muka dengan idaman hatinya Ratu Aceh.

Ia izinkan mengikuti pertaruhan. Ia pun menyerahkan dua peti uang kepada Putri Aceh. Pasa saat itulah ia bertemu muka dengan Putri Aceh, untuk pertama kalinya yang membuat keduanya saling jatuh cinta. Hubungan cinta ini tidak disetujui Raden Cili.

Nantu Kesumopun masuk ke gelanggang pertaruhan. Ia mengikuti pertaruhan permainan Gelincing Jae, yaitu sebuah permainan yang mempergunakan uang sen sebanyak dua keping yang diempaskan diatas batu. dalam permainan ini Nantu Kesumo kalah meraub, menang meraub.

Terjadilah keributan di tengah gelanggang. Permainan Gemincing Jae dihentikan, digantikan dengan pertaruhan menyabung ayam. Ayam Nantu Kesumo selalu menang, tak pernah sekalipun mengalami kekalahan. Hal ini dilaporkan panitia pertaruhan ke Raden Cili. Ia memerintahkan prajurit kerajaan menangkap Nantu Kesumo. Hal ini diketahui oleh Nantu Kesumo, iapun membuat keributan dengan memukul canang dari tempurung. Bunyi tempurung itu sebagai tanda naiknya harga beras. Tanda ini menimbulkan kemarahan kepada peserta pertaruhan yang kalah. Jumlah yang kalah sangat besar. Terjadilah keributan besar yang hebat. Banyak korban berjatuhan.

Konon dari Bengkulu telah diutus pemuda untuk menjemput Nantu Kesumo. Pemuda itu berbaju kuning. Perjalanan memerlukan waktu yang panjang, sedang persediaan makanan terbatas. Ia kehabisan makanan di tengah perjalanan, oleh karena itu ia singgah mendarat dan mendapatkan kebun pisang. Kebun ini milik seorang nenek tua. Oleh nenek tua itu ia dipersilakan makan pisang sepuas puasnya, sampai ia tidak bisa berjalan, karena kekenyangan, akibatnya tidak sampai ketempat tujuan.

Sementara itu keributan di Aceh berlangsung terus, Nantu Kesumo terluka di lambung tunggai, dan luka luka di ujung kuku (mungkin maksudnya tidak seberapa). Raden Cili dan pasukan tentaranya tidak dapat menangkap Nantu Kesumo.

Raden Cili dan tentaranya berusaha menghentikan keributan dan kekacauan itu. Dalam keadaan kacau itu Nantu Kesumo memanfaatkan kesempatan yang baik itu untuk menenui Ratu Aceh untuk membawanya lari ke Bengkulu. Dibawalah Ratu Aceh ke luar istana kerajaan. Pada malam harinya mereka menuju pantai untuk selanjutnya berlayar menuju Bengkulu. Perahu yang digunakan adalah tetap perahu Rejung Kelam. Kedua insan itu pura pura gembira dan bahagia. Nantu Kesumo gembira karena maksudnya tercapai, membawa pulang Ratu Aceh. Sedang Ratu Aceh gembira karena ia dapat bebas dari kungkungan adat kerajaan, bebas menikmati keindahan alam.

Setelah kurang lebih satu bulan berlayar sampilah mereka ke tanah harapan yaitu Bengkulu. Kedatangannya disambut dengan kegembiraan oleh saudaranya Kayu Mentiring dan semua penduduk di desanya. Upacara pernikahanpun diadakan dengan sederhana.

Sementara itu di Negeri Aceh setelah keributan dan kekacauan dapat diatasi, Raja marah kepada Raden Cili dan semua pasukannya. Raja memerintahkan kepada Raden Cili memimpin pasukan untuk menyerang Bengkulu dan mengambil Ratu Aceh. Pasukan disiapkan dengan perlengkapan dan persenjataan yang cukup dan lengkap, serta persediaan makanan yang banyak.

Nantu Kesumo sudah menduga bahwa Raja ACeh pasti akan menyusul putrinya. Karena itu sebelum mereka datang ke Bengkulu, ia dan saudaranya Kayu Mentiring memerintahkan kepada semua penduduk untuk siap-siaga menghadapi segala kemungkinan akibat serangan pasukan Raja Aceh. Benteng-benteng dibangun dan persenjataan dilengkapi, persediaan makananpun diperbanyak.

Alkisah maka datnglah pasukan Raja Aceh yang dipimpin oleh Raden Cili sendiri. Pertempuranpun terjadi antara kedua pasukan itu. Tempat terjadinya pertempuran di suatu tempat yang sekarang bernama Bukit Aceh, terletak di bagian utara kotamadya Bengkulu.

Pasukan Aceh banyak yang tewas dalam pertempuran. Mayat-mayatnya tidak sempat dikuburkan, hingga menimbulkan bau yang sangat busuk. Pasukan Nantu Kesumo tidak tahan jika terus-menerus tercium bau yang sangat busuk itu. Merekapun minta ke Nantu Kesumo untuk menjauhi tempat itu. Nantu Kesumo menyetujui dan tempat yang dipilih adalah Gunung Bungkuk. Menurut cerita orang di Gunung Bungkuk masih terdapat perahu Rejung Kelam yang sudah membatu.

Tidak lama setelah pindah sementara ke Gunung Bungkuk, Kayu Mentiring meninggal dunia. Ia meninggalkan seorang anak yang bernama Bintang Roano, konon menurut cerita Bintang Roano meninggal di Bengkulu dan jenazahnya dimakamkan di daerah yang sekarang bernama Pasar Anggut. Sedangkan Nantu Kesumo sempat kembali lagi ke tempat semula, yaitu Bengkulu, setelah bau mayat hilang. Nantu Kesumo dan Ratu Aceh hidup rukun dan bahagia, tetapi sayang tidak mempunyai anak.

Sumber:
Http://rejang-lebong.blogspot.com
Ditulis ulang oleh Tunjang
Informan lisan M. Kasin, Petani Desa Suka Merindu, Kotamadya Bengkulu
Data proyek pencatatan kebudayaan daerah 1980

Legau Serdam - Lagu Seruling - Legenda terjadinya Kawa Gunung Kaba

Oleh Tun Jang
Cerita Rakyat Rejang

Kawa aktif Gunung Kaba


Dalam sebuah dusun di Renah Sekelawi ada seorang pemuda bernama Sutan Indah. Ayahnya bernama Ratu Panjang, seorang kepala dusun yang di segani dan dihormati oleh rakyatnya.

Sutan Indah sangat pemalas. Ia tidak pernah membantu ayahnya berkerja di sawah dan di ladang. Oleh sebab itu ia tidak diacuhkan oleh ayahnya, meskipun ia adalah anak tunggal. Hanya kepada ibunya sajalah Sutan Indah berani mengadu. Ayahnya sibuk dengan sawah dan ladang serta sibuk memikirkan kesejahteraan kampungnya.

Setiap hari Sutan indah menelusuri tebing sungai memperhatikan ikan-ikan yang berenang dalam air. Ia duduk di atas batu, memperhatikan burung-burung meloncat dari dahan ke dahan di atas ranting dan di dalam semak belukar di sekelilingnya. Ia mengamati tupai jantan dan betina bergelut di batang bambu, yang ujung daunnya menjuntai menyapu air yang deras dan mengalir di sela batu-batu. Kalau hari terasa panas Sutan Indah terjun ke dalam air berenang ke sana ke mari, sambil bersiul kecil dengan lagunya sendiri.

Pada suatu hari, ketika Sutan Indah sedang berjalan-jalan di pinggir sungai, ia melihat sepotong bambu hanyut dibawa arus. Anehnya di atas bambu sebesar telunjuk itu, bertengger seekor burung camar. Dengan tidak di sangka, bambu itu menepi sendiri dan mendekat ke Sutan Indah. Lebih aneh lagi, burung camar tidak mau terbang. Sutan Indah berusaha memungut bambu itu dan juga burung camar yang jinak tersebut lalu dibawanya pulang.

Pada mulanya Sutan Indah bermimpi. Dalam mimpinya ia didatangi oleh seorang bidadari yang sangat cantik dan berkata, "Sutan Indah, buatlah olehmu sebuah serdam (bahasa rejang = seruling) dari bambu yang kau dapati dari sungai kemarin, sedangkan burung itu disembelih dan tanakkan minyaknya. Minyaknya kau lumurkan pada serdammu itu, keringkan selama empat puluh hari dan empat puluh malam. Aku ingin sekali mendengar bunyi serdammu itu Sutan Indah".

Sutan Indah terjaga dari tidurnya, dan berusaha mengingat mimpinya itu.

Keesokan harinya dibuatnyalah sebuah serdam dari bambu yang didapatinya di sungai kemarin itu.

Tiga hari lamanya ia membuat serdam itu, dengan berhati-hati sekali jangan sampai pecah atau retak sedikitpun. Burung camar penyerta bambu tersebut dipotongnya, lalu dimasak dan diambil minyaknya. Minyak burung tersebut digosok-gosokkannya pada serdam yang baru selesai dibuatnya itu. Empat puluh hari dan empat puluh malam serdamnya dianginkan, sesuai petunjuk bidadari dalam mimpinya itu.

Kiranya bambu itulah yang disebut orang buluh perindu, dan rupanya kehendak Tuhan, buluh perinda itu dapat saja melawan arus sungai atau disebut orang hanyut ke hulu. Demikian kesaktian buluh perindu itu, menurut cerita orang-orang tua, apabila buluh perindu itu ditiup, maka suaranya sampai ke kayangan.

Setelah empat puluh hari kemudian, Sutan Indah mencoba serdamnya. Maka timbullah bermacam-macam lagu yang menyayat hati. Ketika orang sedang bekerja, terdengar alunan serdam Sutan Indah, maka berhentilah mereka bekerja, terpukau ketika mendengarnya. Pendeknya, siapa yang mendengar himbauan serdam Sutan Indah terlenalah ia dari pekerjaannya, sampai kepada ibu-ibu yang sedang memasak di dapur berhenti bekerja, sehingga hanguslah nasi tanakannya. Para gadis remaja yang sedang menjaga jemuran padi, lalu termenung, dan tidak diketahui mereka bahwa padinya hampir habis dimakan ayam dan itik.

Orang banyak bertanya-tanya, dari manakah asal bunyi serdam seperti itu. Belum pernah mereka mendengar bunyi serdam seindah itu. Akhirnya orang mengetahui serdam itu adalah milik Sutan Indah anak Ratu Panjang yang tunggal itu.

Lama kelamaan setiap orang yang mendengar bunyi serdam Sutan Indah, terbengkalailah pekerjaannya. Kalau mendengar bunyi serdam itu di malam hari terjagalah mereka dari tidurnya, terutama para bujang dan dara, timbul rasa birahi satu dengan lainnya, berkhayal sepanjang malam, gelisah tak tentu perasaan, mabuk dalam asmara. Hal ini menjengkelkan orang tua Sutan Indah. Berapa kali ayahnya melarang Sutan Indah meniup serdam itu, tetapi tidak dipedulikannya. Ketika sampai pada puncak kemarahannya, lalu diusirnyalah Sutan Indah. Dengan berat hati Sutan Indah mengkahkan kakinya pada malam itu juga, tanpa setahu ibunya.

Pergilah Sutan Indah meninggalkan kampung halamannya, kedua orang tuanya, sanak saudaranya. Pergilah ia dengan serdam buluh perindunya, mengembara menurut langkah kakinya. Kadang-kadang naik bukit turun bukit, kadang-kadang menuruti aliran sungai yang ditemuinya. Kalau terasa penat kakinya, berhentilah ia di bawah naungan pohon-pohonan. Sebelum memejamkan matanya, ditiupmya dahulu serdamnya. Mengalunlah lagu-lagu sedih yang memilukan hati, siapa yang mendengarnya. Alunan serdam Sutan Indah, kiranya terdengar juga sampai kayangan, dibawa angin lalu, sehingga termenunglah para bidadari, dan ada yang ingin turun ke bumi.

Dalam pengembaraan Sutan Indah, tibalah ia di suatu tempat di sebuah bukit. Berhentilah ia di bawah sebuah pohon yang rindang daunnya. Kiranya Sutan Indah berada di kaki sebuah bukit yang merupakan kaki langit alam kayangan. Disitu sering turun para bidadari kalau akan ke bumi, dan juga tempat bermain-main setiap bulan terang. Bukit ini dijaga oleh seorang peri yang sedang beranak bayi. Setiap hari sang peri ini pergi ke kebun di lereng bukit itu. Malam hari barulah berada di pondoknya kembali. Selama ia pergi ke kebunnya,bayinya selalu di jaga oleh seorang bidadari yang diutus dari kayangan secara bergiliran. Hari itu yang menjaga bayi sang peri adalah giliran Krikam Manis yang sangat cantik rupanya, jika dibandingkan dengan yang lain. Ketika ia menjaga bayi sang peri, terdengarlah olehnya bunyi serdam Sutan Indah. Termenunglah ia ketika itu dan ingin sekali melihat siapa peniupnya. Katanya dalam hati, "Apakah ini yang disebut orang tuanya bulu perindu". Dengan tidak disangka saat itu, terlepaslah sang bayi dari pangkuannya, jatuh ke dalam jurang bukit itu. Dari dalam jurang itu keluarlah api yang besar menandakan kemarahan dewata, ditambah bau angit karena daging bayi yang terbakar.

Setelah menyadari hal ini, bingunglah Krikam Manis dan timbullah takutnya. Sudah pasti kalau sang peri kembali nanti malam, ia akan dibunuh. Kalau kembali ke kayangan, sudah tentu akan menerima hukuman yang berat. Larilah ia dari tempat itu jauh-jauh, menuju kebawah, kearah mana suara serdam yang menyebabkan malapetaka itu.

Bunyi serdam makin lama makin jelas kedengaran olehnya. Sampailah ia di suatu tempat dekat sebatang kayu besar lagi rimbun daunnya. Tampaklah olehnya seorang pemuda sedang duduk dibawahnya sedang meniup serdam.

Ketika Krikam Manis berada di depan pemuda itu, yang tak lain dari Sutan Indah yang terusir itu, Sutan Indah sangat tercengang melihat Krikam Manis yang sangat cantik itu. Ia merasa tidak percaya kepada apa yang dilihatnya, bahwa seorang gadik berada di tengah hutan, yang belum pernah didatangi manusia. Ia teringat pula akan mimpinya pada waktu ia mendapatkan bambu hanyut dahulu. Ia membandingkan wajah putri dalam mimpinya, sama dengan wajah gadik yang berada di hadapannya itu. Setelah lama saling berpandangan itu, berkatalah Sutan Indah, "Siapa kamu ini wahai putri? Mengapa berada di sini? Siapa temanmu, apakah kamu seorang diri?". Krikam Manis menjawab, "Aku adalah seorang bidadari penjaga anak peri penunggu bukit ini. Aku lari kesini karena aku telah menjatuhkan anaknya, karena aku lengah ketika mendengar bunyi suara bulu perindu. Mungkinkah bulu perindu itu adalah buluh perindu yang engkau pegang itu?"

"Benar tuan putri. Kalau begitu akan kubuang serdam ini".
"Jangan tuanku. Aku senang mendengarnya. Coba tuanku lagukan sebuah lagu untuk menghibur ketakutanku ini".
"Jangankan sebuah lagu, lebih dari itu aku akan melagukannya".

Akhirnya kedua makhluk itu bersahabat, pergi bersama-sama menurut kehendak langkah kaki mereka. Krikam Manis merasa seperti mendapat perlindungan dari seorang jejaka. Demikian Sutan Indah dapat melupakan kesedihannya berpisah dari kedua orang tua dan kampung halamannya. Sutan Indah berjanji akan melindungi Krikan Manis, dari segala bahaya.

Selama pergaulan mereka, dan selama pengembaraan mereka, tak tentu arah tujuan, belum terlukis dan terlintas perasaan aneh dalam diri Sutan Indah. Tetapi sebaliknya, Krikam Manis telah mempunyai rasa simpati yang mendalam, bahkan lebih dari itu, sebagai naluri seorang gadis yang telah memiliki jiwa kemanusiaan, dan sudah melepaskan diri dari alam kedewaan. Dunia ini dirasakannya indah sekali selama berdampingan dengan Sutan Indah yang gagah lagi tampan itu. Terlebih lagi kalau Sutan Indah telah bersenandung dengan buluh perindunya itu. Tenang dan damai rasa di hati Krikam Manis. Hilang segala ketakutan dan kecemasan, kesedihan dan kerinduan akan alam kayangan yang telah ditinggalkannya.

Akhirnya mereka sampai pada suatu tempat, disebuah batu yang agak lebar. Di situlah mereka berhenti dan duduk beristirahat. Tak jauh dari tempat itu terdapat mata air yang panas dan dihilirnya terdapat pula dua muara sungai yang lubuknya agak dalam. Disitulah Krikam Manis menyejukkan badannya.

Sutan Indah mulai meniup serdamnya. Dari lagu ke lagu, yang sulit diartikan oleh orang biasa, merupakan untaian isi hatinya. Krikam Manis merasakan arti tiupan bulu perindu Sutan Indah itu. Tak dapat ia ungkapkan dengan kata-katanya, hanya lewat pandangan matanya tertuju kepada Sutan Indah, seolah olah mengharapkan perngertian Sutan Indah. "Marilah kita ciptakan dunia ini seindah mungkin". Bisik hati Krikam Manis.Kiranya Sutan Indah demikian pula halnya. Tetapi ia belum sanggup dan belum berani melahirkan isi hatinya yang sudah lama terpendam, sejak pertemuannya yang pertama sesuai pula dengan impianya dahulu. Kadang-kadang ia terkenang kepada ibunya yang ia tinggalkan pada malam hari keberangkatannya dari rumah. Ia tidak sempat berpamit kepada ibunya. Kadang-kadang terasa ingin pulang menjenguk ibunya sebentar. Bagaiaman Krikam Manis? Tak mungkin dibawanya serta. Ia takut kepada ayahnya yang mungkin masih dendam kepadanya. Berkatalah ia kepada Krikam Manis pada suatu malam yang indah,"Adinda Krikam, aku senang sekali menyaksikan kedua benda di atas langit pada malam ini. Yang satu bulan yang satu lagi bintang yang sangat terang itu.Bila kulihat kedua benda itu, aku rindu sekali kepada sang bulan dan aku cinta sekali kepada sang bintang itu".

"Apa maksud kakanda Sutan terhadap kedua benda itu. Siapa yang bulan siapa yang bintang yang paling terang itu?".
"Ada kau dengar lagu dalam serdamku itu Krikam?".
"Betul kakanda".
"Nah adinda. Aku merindukan ibuku, yang kutinggalkan beberapa bulan lalu. Dan aku cinta kepadamu adinda Krikam". Kemudian berkata kembali Sutan Indah dengan lemah lembut,"Adinda Krikam, jika adinda izinkan aku akan menemui ibuku sebentar, untuk menyampaikan berita gembira ini kepada ibu, bahwa aku akan segera menyuntingmu adinda. Aku bukan tak ingin membawamu serta, tetapi aku takut kalau ayahku yang bengis itu lebih marah lagi kepadaku dan kepada kita berdua. Aku sayang sekali kepadamu, jadi lebih baik adinda tinggal di sini sebentar. Pondok ini sudah cukup kuat bagimu untuk berlindung dari gangguan binatang buas". Krikam tidak berkata sepatah pun.

Keesokan harinya, Sutan Indah berangkat menuju kampungnya. Tinggallah Krikam Manis seorang diri.

Setelah sampai di kampungnya, bertemulah Sutan Indah dengan ibunya. Ibunya sangat gembira sekali, apalagi setelah mendengar cerita Sutan Indah, bahwa ia akan menyunting seorang bidadari dari Kayangan. Demikian pula ayahnya, sudah tidak marah lagi kepada Sutan Indah yang telah kembali itu. Terlebih lagi setelah mengetahui bahwa Sutan Indah telah beristri. Malah disesalkannya sekali mengapa Krikam Manis tidak di bawah sekali.

Malam itu juga ayah Sutan Indah mengerahkan orang kampung untuk menjemput Krikam Manis. Gajah mena tela disiapkannya. Obor dinyalakan. Sebanyak empat puluh orang penjemput Krikam Manis.

Ibu Sutan Indah ikut juga, didampingi Sutan Indah. Ayahnya berada di depan sekali mengepalai rombongan.

Ketika ayam berkokok, tibalah rombongan di hutan dekat pondok Krikam Manis. Krikam terkejut sekali melihat nyala obor yang banyak sekali. Dari jauh terlihat olehnya rombongan orang yang banyak itu. Timbul takutnya, apalagi melihat orang yang di depan sekali sudah tua dan besar badannya serta membawa golok.

Krikam tidak melihat Sutan Indah, karena Sutan Indah masih berada di belakang rombongan, karena sedang tertatih-tatih memapah ibunya.

Krikam Manis menyangka oranga banyai itu akan berbuat jahat kepadanya dan mungkin pula ayah Sutan Indah yang akan menghukumnya. Demikian pula dikiranya bahwa Sutan Indah telah dihukum lebih dahulu oleh ayahnya. Dengan tidak berpikir panjang lagi melompatlah Krikam Manis dari pondoknya melarikan diri ke dalam hutan menerobos kegelapan malam.

Rombongan sampai di pondok Krikam Manis, tetapi ia tidak ditemui lagi. Yang tinggal hanyalah secarik perca bekas sobekan selendang Krikam Manis yang tersangkut di pintu pondok, sebagai tanda bukti kebenaran Sutan Indah akan kata-katanya. Semua penjemput merasa kecewa, apalagi Sutan Indah yang merasakannya. Rombongan kembali ke kampung pagi itu. Sutan Indah pergi pula tak menentu arahnya, untuk mencari Krikam Manis.

Disuatu tempat di dataran tinggi yang luas, Sutan Indah berhenti di bawah sebatang pohon yang rindang. Tak disadarinya serdam diangkatnya ke atas bibirnya, sambil airmatanya berlinang-linang, mengalunkan rangkaian lagu kesedihan bercampur kekecewaan dan kepatahan hati
Berhari hari lamanya.

"do legau alau moi das lenget,
duai legau ngan Ratu Panjang
tlau legau ngan Krikam Manis . . . ."

Lagu pertama ini ku persembahkan ke atas langit, untuk para dewa, keluarga Krikam Manis dengarlah. . . .

Lagu kedua kusampaikan kepada ibuku dan bapakku Ratu Panjang, dan

Lagu ketiga untukmu sayang, dimana saja kau berada, dengarlah. . . . dengarlah. . . .

Demikianlah hingga saat ini bila kita mendengar serdam di malam hari, teringat akan kisah Sutan Indah anak tunggal Ratu Panjang, bernasib malang. Hingga saat ini nasib Sutan Indah tiada diketahui lagi.

Hanya tinggal legendanya saja berupa bukit Kaba yang berkawah (Gunung Kaba dengan kawah aktip di puncaknya). Kawahnya terjadi karena telah menelan anak Peri yang terjatuh dari pangkuan Krikam Manis.

Suban air panas beserta kedua muara sungai di hilirnya adalah tempat peristirahatan Sutan Indah dan Krikam Manis yang sedang dalam kegembiraanya dahulu.

Dan menurut cerita pula, dataran bukit Seblat sebelah utara merupakan perhentian terakhir pengembaraan Sutan Indah


Reference:
Proyek Penerbitan dan Pencatatan Kebudayaan Daerah.
Informan Ibnu Hajar (48th -1981), desa Muara Aman.
Di tulis oleh Tun Jang

Kisah Puyang Merajo Santri - Legenda Benakat

Puyang Merajo Santri adalah puyang warga desa Benakat. Dari keturunan Puyang inilah menjadi warga yang menempati 5 kampung, yakni : Padang Bindu, Pagar Dewa, Pagar Jati, Betung, dan Rami Pasai. Menurut kisah (sumber: Bpk. H. Wahid bin H. Hasan), Puyang Merajo Santri merupakan pendatang dari Pulau Jawa. Sebelum kedatangannya ke Benakat, Puyang Merajo Santri sudah memiliki istri yang konon ditinggalkannya saat tengah mengandung putra pertamanya. Sebelum kepergiannya, Puyang Merajo Santri sempat meninggalkan dua benda yakni kompas mata angin dan keris pada istrinya yang diamanatkan untuk diberikan pada sang anak jika telah lahir. Pesan yang disampaikan kepada istrinya, jika kelak anaknya sudah besar dan ingin mencarinya. Ikuti saja arah kompas mata angin yang kelak akan menunjukkan keberadaanya.

Setelah sang anak lahir dan dewasa. Sesuai dengan amanat sang ayah, pergilah putra Puyang Merajo Santri ini mencari sang ayah berbekal kompas mata angin. Setelah melawati lautan dan menelusuri sungai, tibalah sang anak di ujung Sungai Benakat (di muara pertemuan Sungai Benakat dan Sungai Lematang), ternyata kompas angin tersebut menunjukkan arah ke Sungai Benakat. Tiba di dalam perkampungan di pinggir sungai ada keramaian yang ternyata perlombaan menendang bola besi. Semua pemuda diundang untuk unjuk kemampuan menendang bola besi. Dari hasil sementara ternyata anak Puyang Merajo Santri (dari hasil pernikahan dengan gadis Benakat) yang unggul. Pada saat itu Puyang Merajo Santri bertanya apakah masih ada pemuda yang ingin unjuk kemampuan? Nah… pemuda dari Pulau Jawa yang saat itu menyaksikan pertunjukkan tadi mengajukan diri. Saat itu ternyata tendangan bola besi sang Pemuda melebih dari tendangan putra Puyang Merajo Santri tadi. Kagetlah Puyang Merajo Santri, bertanyalah tentang asal usul pemuda tersebut. Saat pemuda dari pulau Jawa ini menunjukkan kompas mata angin, saat itu teringatlah Puyang akan putranya yang masih dalam kandungan saat ditinggalkannya. Demikianlah cerita asal usul Puyang warga Benakat.

Akhirnya, berkembanglah keturunan-keturunan Puyang hingga saat ini. Makam Puyang Merajo Santri berada di seberang ulu Sungai Benakat tepatnya di Desa Padang Bindu di seberang sungai.



Sebagai tambahan, menurut nara sumber bahwa Puyang Merajo Santri (Puyang Benakat) mempunyai dua saudara yakni Puyang Merajo Besi (Puyang Dangku) dan Puyang Merajo Singa (Puyang …).

************
Sebelum menjadi Kecamatan pada tanggal 3 April 2004, Benakat adalah sebuah marga desa yang terletak Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan. Dari pusat kota Palembang berjarak sekitar 200km ke arah barat Sumatera dan saat ini dapat ditempuh dengan jalan darat dengan waktu kurang lebih 4 jam dari Kota Palembang. Dahulu, transportasi hanya menggunakan kendaraan air (motor air), kemudian dibangunlah jembatan gantung pada tahun …. Lalu pada tahun … barulah dibuat jembatan permanen. Sebagian besar warga merupakan petani dengan menanam padi, karet dan pohon duku. Sejak berdirinya perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit, banyak warga Benakat yang bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut.

Sumber :
http://benakat.com

Sebagai tambahan dari admin, bahasa Benakat kosa katanya banyak sekali yang mirip dengan bahasa Rejang saat ini, mirip campuran bahasa Palembang dan Rejang (atau ada tambahan bahasa lain sekitar sumbagse).

PUYANG KEMIRI PESAN-PESAN, DAN ASAL USUL EMPATLAWANG

Oleh : Vebri Al Lintani
Direktur Lembaga Budaya Komunitas Batanghari 9 (KOBAR 9)


Dalam kisah-kisah Puyang, selain memuat asal usul, juga memuat pesan-pesan dasar yang menjadi aturan adat yang amat dipatuhi oleh masyarakat. Inilah yang disebut dengan pesan puyang. Satu diantara kisah puyang di wilayah Batanghari Sembilan adalah Puyang Kemiri yang diakui sebagai puyang (nenek moyang) orang-orang di dusun (sekarang desa) Kunduran, sebagian dari masyarakat dusun Simpang Perigi, dan sebagian masyarakat yang tersebar di dusun-dusun sekitar kecamatan Ulu Musi, Kabupaten Empat Lawang, daerah perbatasan antara provinsi Sumatera Selatan dan provinsi Bengkulu. Dahulu daerah ini merupakan bagian dari wilayah marga Tedajin. Berikut ini ringkasan cerita Puyang Kemiri.


Konon di masa akhir kejayaan kerajaan Majapahit, Rio Tabuan, seorang biku yang yang berasal dari negeri Biku Sembilan Pulau Jawa menelusuri sungai Rotan atau sungai Musi dengan membawa kerbau dan ayam berugo (ayam hutan). Ketika tiba di Kuto Kegelang, kedua hewan yang dibawanya berbunyi, maka di tempat inilah dia menetap. Kuto Kegelang berada beberapa kilo meter di hulu Dusun Kunduran.

Di Kuto Kegelang, dia mendapatkan tujuh orang anak yang bernama
• (1) Imam Rajo Besak,
• (2) Imam Rajo Kedum,
• (3) Seampai-ampai,
• (4) Maudaro,
• (5) Siap Melayang,
• (6) Robiah Sanggul Begelung
• (7) Serunting Sakti.
Setelah mendapatkan tujuh orang anak, Puyang Rio Tabuan tidak lagi merasa kesepian. Anak-anak ini dimintanya dari Mastarijan Tali Nyawo, seorang penduduk yang tinggal di Surgo Batu Kembang.

Bertahun-tahun kemudian, Robiah Sanggul Gelung yang cantik dilarikan oleh Seniang Nago ketika mandi di tepian Sungai Musi. Robiah duduk di atas sebatang kayu yang rupanya samaran Seniang Nago dan kemudian pelan-pelan bergerak menjauh dan melarikannya ke Selabung.
Lalu Robiah disusul oleh Kerbau Putih, (seekor kerbau peliharaan Puyang Kemiri, atau penafsiran lain adalah seorang yang berjuluk Kerbau Putih karena kesaktiannya) untuk mencari Robiah, atas suruhan saudara-saudaranya.

Kerbau putih memulai pencariannya dengan menyelam di sana dan muncul di tepian coko (tepian mandi di seberang dusun Kunduran). Di tempat ini masih dapat dilihat bekas telapak kaki (tinjak) kerbau putih. Lalu dia menyelam lagi, muncul kedua kalinya di dusun Tapa dan kemudian menyelam lagi hingga ketiga kalinya di Selabung.

Pencarian Kerbau Putih ini berhasil menemukan Robiah tetapi tak berhasil membawakanya kembali ke Kuto Kegelang. Robiah sudah menikah dengan Seniang Nago. Lalu Kerbau putih segera pulang ke Kuto Kegelang. Sebagai tanda bukti bahwa dia sudah bertemu dengan Robiah, Kerbau Putih dibekali dengan seikat ilalang, seruas bambu, air garam, sebuah kemang, seekor kemuai (keong putih) serta pesan Puteri Robiah yang ditulisnya di tanduk Kerbau Putih.

Dalam perjalanan pulang, Kerbau Putih dihadang oleh kerbau Tanduk Emas dan kemudian dua kerbau ini berkelahi. Kerbau Putih kelelahan dan mati di dusun Tapa. Perbekalan yang dibawa olehnya berupa ilalang tertumpah dan tumbuh di daerah ini sehingga menjadi hamparan padang ilalang yang saat ini dikenal dengan nama Padang Pancuran Emas. Buah Kemang pun tumbuh dan bambu juga ikut tumbuh di atas tubuh Kerbau Putih. sedangkan Kemuai diantarkan oleh Puyang Dusun Tapa ke Kuto Kegelang dan sekaligus menyampaikan pesan tentang Robiah yang tertoreh di tanduk Kerbau Putih.

Berselang beberapa bulan kemudian, Robiah yang sudah memiliki seorang anak berniat pulang (begulang) ke Kuto Kegelang. Mendengar kabar Robiah akan begulang, semua saudara-saudaranya amat bahagia, dan segera bermusyawarah untuk mengadakan sedekahan (kenduri). Tetapi lain halnya dengan Serunting, di dalam hatinya masih menyimpan rasa sakit karena perlakuan Seniang Nago yang melarikan Robiah. Karena itu, ketika dia disuruh mencari ikan, dengan setengah hati dia pergi, dan baru kembali setelah kenduri usai.

Ketika kembali Serunting hanya membawa seruas bambu, seperti yang di bawanya semula. Tetapi ternyata, seruas bambu itu berisi ikan yang tidak habis-habisnya, semua bakul, keranjang bahkan kolam tidak dapat menampung ikan yang ditumpahkan dari seruas bambu tersebut. Imam Rajo Besak yang sedari mula sudah kesal dengan Serunting bertambah marah. Lalu Imam Rajo Besak melemparkan seruas bambu dengan sangat keras hingga melewati Bukit Lesung dan jatuh di sungai Pelupuh.

Serunting sakti jadi tersinggung dengan sikap kakak tertuanya ini lalu pergi dari rumah. Tinggallah Imam Rajo Besak dan ke empat saudaranya. Mereka hidup tenang dalam beberapa tahun. Lalu mereka diserang oleh segerombolan orang. Rumah mereka dibakar habis. Tetapi kelima puyang ini dengan kesaktiannya, tiba-tiba menghilang (silam) dari pandangan orang-orang.

Dalam sebuah rumah yang mereda dari kobaran api, tampaklah seorang anak yang duduk di tengah puing-puing rumah. Konon, anak itu bukan hangus tetapi malah menggigil karena kedinginan. Anak yang bernama Sesimbangan Dewo ini kemudian dipelihara oleh Puyang Talang Pito (daerah Rejang). Sesimbangan Dewo, artinya pengimbang puyang yang silam. Beberapa tahun dia dirawat oleh Puyang Talang Pito. Lalu dia mengembara selama sepuluh tahun ke negeri lain. Kemudian dia pulang ke sekitar dusun Kunduran, menetap di Muara Belimbing. Makamnya pun berada di Muara Belimbing.

Setelah beberapa tahun kemudian, Imam Rajo Besak menjelma kembali. Dia bertemu dengan Rajo Kedum dari Muaro Kalangan, Raden Alit dari Tanjung Raye, dan Puyang dari Muara Danau. Keempat orang ini kemudian dikenal dengan nama empat lawangan (empat pendekar) yang kemudian menjadi cikal bakal kata Empatlawang. Keempat sahabat kemudian menyerang kerajaan Tuban yang dipimpin oleh seorang ratu.

Dalam penyerangan yang dipimpin Imam Rajo besak sebagai panglima mereka mendapatkan kemenangan. Mereka berhasil memasuki istana dan mengambil beberapa benda yang berharga termasuk sebilah keris pusaka Ratu Tuban yang diambil sendiri oleh Rio Tabuan dengan ujung kujur (tombak) pusakanya, karena ketiga temannya tidak mampu. Kedua pusaka ini, hingga saat ini masih tersimpan di jurai tuo (keturunan yang memiliki garis lurus dengan puyang Imam Rajo Besak) yang tinggal di dusun Kunduran.

Puyang Kemiri memberikan sumpah kepada keturunannya yang jika tidak dipatuhi akan mendapat keparat (kualat). Inilah 3 sumpah Puyang Kemiri :
(1) beduo ati dalam dusun nedo selamat (berdua hati di dalam dusun tidak selamat),
(2) masukkan risau dalam dusun nedo selamat (memasukkan pencuri di dalam dusun tidak selamat),
(3) iri dengki di dalam dusun nedo selamat (iri dengki di dalam dusun tidak selamat).

Selain itu, puyang Kemiri pun memesankan tujuh larangan lagi, yakni:
• 1. nyapakan kaparan ke ayik (membuang sampah ke sungai),
• 2. mandi pakai baju dan celano (mandi memakai baju dan celana; biasanya orang di dusun kalau mandi memakai telasan (kain penutup tubuh yang dipakai khusus untuk mandi),
• 3. buang air besar/kecil di atas pohon,
• 4. ngambik puntung tegantung (mengambil kayu bakar yang tergantung di pohon),
• 5. ngambik putung anyot (mengambil kayu bakar yang hanyut di sungai,
• 6. mekik-mekik di ayik dan di hutan (berteriak di hutan atau di sungai),
• 7. nganyotkan kukak gebung (menghanyutkan kulit rebung di sungai).

Analisis pesan
Jika mencermati ketiga sumpah puyang, pertama, agar seseorang tidak boleh bersikap mendua hati, artinya seseorang harus setia pada kesepakatan awal. Tidak boleh memasukkan pencuri atau berkhianat, apalagi menjadi pencuri betulan. Artinya kejujuran merupakan hal yang paling utama dalam meningkatkan kepribadian seorang manusia. Selanjutnya, anak cucu Puyang Kemiri harus bersih hati dari iri dan dengki. Ketiga, norma dasar ini merupakan sikap dasar yang harus dimiliki oleh orang yang baik.
Pada bagian kedua, poin satu, dan poin lima, umpamanya, pesan ini berspektif lingkungan. Bagaimana puyang-puyang dahulu telah memikirkan cara menjaga sungai dan melindungi hutan. Sungai dan hutan yang di dalamnya bergantung kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan lainnya, merupakan satu mata rantai yang saling membutuhkan. Karenanya, mata rantai ini harus dijaga dalam garis keseimbangan. Simaklah larangan puyang yang tidak boleh membuang sampah di sungai, artinya jika membuang sampah tentu akan membuat sungai tercemar.
Poin lima, pesan puyang melarang orang mengambil kayu bakar yang hanyut di sungai. Jika direnungi lebih lanjut, larangan ini tidak hanya melarang orang mengambil kayu bakar tetapi sebenarnya juga tidak boleh menebang pohon di tepi sungai. Karena biasanya pohon yang hanyut di sungai adalah pohon yang diambil di tepi sungai, atau yang dihanyutkan melalui sungai. Saat ini, kita lihat betapa banyak orang-orang mengangkut gelondongan kayu yang tidak sah (illegal logging) di sungai. Jadi, tidak hanya kayu bakar tetapi kayu-kayu besar sudah dijarah oleh orang-orang yang serakah. Akibatnya bencana banjir menjadi langganan tahunan bagi masyarakat daerah ini.
Poin tujuh, puyang melarang seseorang menghanyutkan kulit rebung yang bermiang (bulu-bulu halus yang menempel di kulit rebung dan akan menyebabkan gatal-gatal jika terkena kulit manusia) di sungai. Maksudnya, kulit rebung yang mengandung miang jika dihanyutkan akan membuat miangnya hanyut dan jika ada orang yang mandi maka dia akan terkena miang yang dapat menyebabkan tubuhnya menjadi gatal. Selanjutnya, pada poin tiga, melarang orang membuang kotorannya di atas kayu. Takutnya jika ada orang lewat di bawahnya tentu akan membuat celaka juga. Jika dipahami lebih luas, poin tujuh adalah larangan puyang agar tidak berbuat yang dapat mengakibatkan orang lain celaka.
Poin dua, dan poin empat merupakan kiasan perbuatan yang dapat mencelakakan diri sendiri. Cobalah pikirkan, jika seseorang mandi pakai baju dan celana, tentu mandinya tidak dapat terlalu bersih dan jika tiba-tiba hanyut, tentu celana dan baju akan menjadi berat jika dibawa berenang. Begitu juga dengan mengambil kayu bakar yang tergantung, salah-salah akan menimpa dirinya.
Poin enam dilarang berteriak di sungai dan di hutan. Umumnya masyarakat di uluan Sumatra Selatan melarang berteriak di sungai dan di dalam hutan. Sebab, berteriak di dalam hutan akan mengganggu ketenangan hewan-hewan, dan bahkan bisa mengejutkan binatang buas. Jika binatang buas terkejut tentu saja akan mendatangkan celaka bagi diri sendiri.
Larangan-larangan puyang di atas sebagian besar bersumber dari cerita Puyang Kemiri itu sendiri, misalnya, tentang larangan mengambil kayu bakar yang hanyut, ini ada kaitannya dengan Puyang Seniang Nago yang menyamar menjadi sebatang kayu yang rebah di tepian. Begitu juga dengan sikap hati mendua, dan iri hati di dalam dusun. Hal ini ada kaitannya dengan cerita Puyang Serunting Sakti yang tidak ikhlas menjalankan tugas yang sudah disepakati dan diperintahkan oleh Imam Rajo Besak.
Pesan-pesan kearifan lokal seperti ini, jika dilihat secara substansi merupakan nilai-nilai yang universal dan bersumber dari adat. Tetapi seringkali, nilai-nilai yang berlaku secara adat, saat ini dianggap tidak masuk akal dan berbau kemenyan. Padahal, kearifan lokal seperti ini oleh masyarakat adat sangat dipatuhi. Karena mereka sangat yakin, apabila tidak dipatuhi akan mendatangkan balak (mala petaka). Dimana-mana seolah-olah mata puyang selalu mengawasi mereka. Hal ini sangat masuk akal. Saya kira, siapa pun yang melanggar ketentuan Puyang Kemiri akan tidak selamat dan tidak sempurna hidupnya. Bagaimana hidupnya mau selamat jika mendua hati (berhianat), pencuri, dan tidak jujur.
Dari sisi budaya, legenda Puyang Kemiri merupakan modal sosial budaya yang perlu dijaga. Sejatinyalah, legenda Puyang Kemiri merupakan sumber hukum adat yang memiliki nilai-nilai universal, menjunjung persatuan, menjunjung rasa hormat terhadap diri sendiri, rasa hormat terhadap orang lain dan terhadap lingkungan alam lainnya.
Selanjutnya tugas para agamawan dan budayawan menyambungkan substansi nilai-nilai tersebut dengan ajaran-ajaran agama Islam yang juga memiliki nilai-nilai yang sama, dan lalu menyambungkannya dengan nilai-nilai yang berkembang dalam era saat ini. Sehingga nilai adat dapat bersinergi dengan nilai agama dan nilai kebudayaan yang telah mengamali kegayauan (kegamangan).

Reference:
Cerita Puyang Kemiri, Legenda Empat Lawang yang Sarat Pesan
http://rejungpesirah.blogspot.com

BUJANG REMALUN

Folk tale : South Sumatera
Di suatu desa ada seorang raja. Raja ini mempunyai seorang putra bernama Bujang Remalun, yang sudah mempunyai tunangan bernama Putri Kendun. Pada suatu hari Bujang Remalun ikut gotong-royong memperbaiki balai desa. Akan tetapi malang, ia terjatuh dan meninggal dunia. Kematian Bujang Remalun tanpa diketahui tunangannya sebab raja mengumumkan kepada rakyatnya, siapa yang memberitahukan tentang kematian anaknya akan dihukum. Bujang Remalun dikuburkan di Bukit Seenti-Enti, jalan Limau Manis. Di atas kuburnya banyak diletakkan alat-alat musik milik Bujang Remalun hingga suatu malam Bujang Remalun bangkit dari kuburnya dan datang ke rumah Putri Kendun. Sang Putri yang tidak tahu tentang kematian Bujang Remalun mengira bahwa yang datang itu Bujang Remalun yang masih hidup, dan ia mau saja diajak Bujang Remalun pergi dan sang Putri pun bertanya,

"Kakak malang Bujang Remalun
Mengapa berjalan menganjak-anjak"
Bujang Remalun menjawab,
"Aku memakai sepatu tinggi"
Bertanya lagi Putri Kendun,
"Kakak malang Bujang Remalun
Mengapa kakak berkepala lancip"
Bujang Remalun menjawab,
"Aku memakai penutup kukusan"
Bertanya lagi Putri Kendun,
"Kakak malang Bujang Remalun
Mengapa kakak bermata merah"
Jawab Bujang Remalun,
"Aku menyelam di lubuk yang dalam"

Akhirnya sampailah mereka di suatu tempat, yang ada pondoknya tempat orang menumbuk padi. Berkatalah Bujang Remalun kepada Putri, "Hai, Putri, kau tunggu di sini, aku akan menemui ayah dan ibu untuk menjemputnya!" Namun, dari siang sampai sore menunggu belun juga ada jemputan
Ketika Putri sedang menunggu datanglah orang yang mempunyai kebun itu. Dia heran mengapa tunangan Bujang Remalun ada di situ. Lalu dia bertanya, "Hai, Putri, mengapa kamu di sini?" "Aku menunggu Bujang Remalun," jawab Putri. Orang tersebut heran, langsung menernui raja. Orang tua Bujang Remalun terkejut dan menyuruh orang desa itu menjemut sang Putri. la berpesan supaya jangan mengatakan bahwa Bujang Remalun sudah meninggal, tapi katakan pergi ke Palembang.

Setelah dijemput orang desa tadi, Putri tinggal di rumah raja sambil menunggu Bujang Remalun. Bulan demi bulan, bahkan sudah setahun sang Putri menunggu, namun, Bujang Remalun tak juga kunjung datang. Pada suatu hari, ketika raja dan istrinya sedang pergi, Putri masak kue sebanyak-banyaknya dan mengumpulkan seluruh penduduk desa itu. Mereka disuruhnya makan. Setelah makan mereka ditanyai satu per satu, namun, tak seorang pun mau menjawab. Yang belum ditanyai hanyalah seorang anak yang sedang menggendong adiknya.
Putri langsung mengambil adik anak itu sambil mengancam jika tidak memberi tahu tentang. Bujang Remalun, adiknya itu akan dibunuh. Terpaksalah anak tadi memberi tahu bahwa Bujang Remalun sudah meninggal, dan dia juga memberi tahu di mana kuburannya.
Pergilah sang Putri ke kuburan Bujang Remalun sambil membawa pisau dan abu seruas bambu. Ditorehkannya pisau itu di bukit itu, dan torehan itu diisinya dengan abu tembakau, terus diinjaknya sambil berpantun

"Naik tebing Seenti-Enti
Ke jalan ke limau manis
Sebulan tunduk menangis
Setahun tunduk berhenti"
Akhirnya, sampailah dia di puncak bukit. Setibanya di sana. sambil menagis dimainkannya alat-alat musik tadi. Ia pun melihat sebatang kesur (=jenis tetumbuhan), lalu berpantulah sang Putri,
"Sur si kembang kesur
Kesur meluncur ke dunia
Kesurkan daku ke surga"
Sur, tubuh sang Putri meluncur ke dalam tanah. Berpantun lagi dia,
"Sur si kembang kesur
Kesur meluncur ke dunia
Kesurkan daku ke surga"
Sur, tinggal sebatas leher tubuh sang Putri yang tampak, "Sur si kembang kesur
Kesur meluncur ke dunia
Kesurkan daku ke surga
Akhirnya, lenyaplah tubuh sang Putri ditelan bumi. Setibanya di surga ia berjalan tak tentu arah. la pun bertemu dengan orang yang sedang menanam padi.
"Hendak ke mana Putri, kalau mati belum ukur kain rnasih berenda, anak mata masih bergerak."
"Aku hendak menyusul Bujang, "kata Putri. Berjalan lagi sang Putri, dan ia pun berjumpa den-an orang yang sedang merumput. Sang Putri pun disapa.
"Hendak ke mana Putri, kalau mati belum ukur kain
masih berada, anak mata maka masih bergerak,"
"Aku mau menyusul Bujang Remalun," jawab Putri. "Wah, baru sebentar tadi dia lewat," kata orang itu.
Berjalan lagi sang Putri. Lantas bertemulah dia dengan
pondok Nenek Jadi jadian (=berasal dari Harimau Jadi-jadian). "Hendak ke mana Putri, kalau mati belum ukur kain
masih berenda, anak mata maka masih bergerak."
"Saya mau menyusul Bujang Remalun." jawab Putri.
"Wah, baru sebentar tadi Bujang Remalun lewat." kata sang Nenek.
"Biarlah Nek, saya ingin tinggal di sini saja."
Padahal di pondok itu Bujang Remalun bersebunyi setelah ia di sihir sang Nenek menjadi gambir.
"Kalau kamu memang ingin tinggal di sini," kata sang Nenek, "cucilah beras, tapi jangan ada yang jatuh." Pergilah Putri tadi mencuci beras: jika ada yang jatuh dipungutnya beras itu.
Ketika sang Putri sedang mencuci beras. Bujang Remalun disihir oleh sang Nenek menjadi manusia kembali. Bujang Remalun pun pergi menjala. Sepulangnya sang Putri dari sungai, ia heran melihat ada ikan di pondok itu.
"Nek, ikan siapa ini?"
-1kan perolehan membeli," jawab sang Nenek.
Keesokan harinya, sang Putri kembali mencuci beras. Bujang Remalun juga pergi dan memperoleh petai. Sang Putri pun heran -menyaksikan ada petai di pondok itu sekembalinya dia dari sungai. Begitulah, keesokan harinya sang Putri berpura-pura mencuci beras. Ketika diintipnya, ternyata sang Nenek sedang menyihir Bujang Remalun kembali. Lantas diantuk-antukkannyalah Bujang Remalun oleh sang Putri dengan berkata,
"Tuk, tuk, antuk
Terantuk hatiku
Besok jodohku
Sekarang pun jodohku"
Akhirnya, kawinlah Putri Kendun dengan Bujang Remalun dan merekea kembali ke dunia.

Sumber :
Balai Bahasa Sumatera Selatan

BAMBU GADING

Folk Tale : South Sumatera
Ada sebuah cerita Beteri dan Nenek. Suatu hari Nenek mengajak Beteri pergi ke pulau untuk menggali ubi. Sesampai di pulau. Beteri itu didudukkan oleh neneknya di atas batu besar, lain nenek berpesan, "Beteri, engkau jangan pergi ke mana-mana. Duduklah di sini, nenek akan menggali ubi untuk makanan kita hari ini!" Tak lama mulailah Sang Nenek menggali ubi. Tanpa diketahui oleh neneknya batu besar tempat Beteri duduk itu bergerak, bergeser. Beteri memanggil neneknya sambil bernyanyi. "Nek. nenek menggali ubi, ubi digali dimakan ayam." Jawab nenek. "Cucuku. tunggu saja. nenek tidak lama." Tak lama kemudian batu itu bergeser lagi. Beteri memanggil neneknya lagi, "Nek, nenek menggali ubi, ubi dimakan ayam." Dijawab lagi oleh Neneknya, "Tunggu dulu cucuku, tidak lama lagi." Setelah itu batu tadi bergeser lagi mendekati air. Beteri mengulangi lagi sambil memekik memanggil neneknya, "Nek, nenek menggali ubi, ubi dimakan ayam." Sudah beberapa kali Beteri memanggil neneknya. jawabannya sama seperti tadi. Akhirnya sampailah batu besar tadi ke air.

Sesampai di air, rupanya batu besar tadi adalah seekor naga yang besar sekali. Dibawalah Beteri itu ke pulau seberang yang bernama Pulau Naga. Sementara itu nenek Beteri tadi sudah selesai menggali ubi. tetapi betapa kecewanya ketika dilihatnya Beteri tidak ada lagi, sudah hilang. Demikian pula batu tempat Bateri duduk pun sudah hilang. Nenek Bateri mencari cucunya sambil meratap sedih,

"Beteri. Beteri. cucuku sayang ke mana saja engkau?" Berulang-ulang Neneknya mencari. tetapi tidak bertemu. Setelah lama mencari. tetapi tidak bertemu. Setelah lama mencari- tetapi tidak bertemu juga. Neneknya panik dan terjatuh tertusuk kayu akhirnya meninggal dunia.
Beteri- setelah sampai di Pulau Naga. tidak dibunuh oleh naga yang besar itu, tetapi dipelihara karena ia itu ingin makan hati Beteri. Akan tetapi- hati Beteri masih terlalu kecil sehingga ia dipelihara saja dahulu oleh Naga itu.

Setiap Naga itu hendak pergi berburu, Bateri menangis saja. Lain Naga bertanya, "Cucuku, mengapa engkau menangis'?" Beteri menjawab, "Telingaku sakit." Karena melihat Beteri menangis. lalu sang Naga memberikan anting-anting emas. Sesudah itu Sang Naga berangkat berburu.
Setelah petang. Naga pulang membawa rusa, hasil perolehan dari berburu. Lain rusa itu diberikannya kepada Beteri untuk dimasak dan dimakan bersama-sama. Sehabis makan, Sang Naga bertanya dengan Beteri, "Sudah sebesar apakah hatimu, Beteri?" Dijawab Beteri, "Baru sebesar ujung lidi." Setiap menjawab pertanyaan Sang Naga, Beteri berbohong saja karena dia sudah tahu bahwa naga itu ingin makan hatinva.

Selanjutnya Beteri mencari akal bagaimana agar ia dapat keluar dari Pulau Naga ini. Kebetulan di seberang pulau ada rebung bambu kuning. Setiap Naga itu pergi berburu, Beteri berpantun dengan rebung itu, "Panjang-panjanglah bambu gading, antarkan saya ke seberang!" Mendengar pantun Beteri, bambu gading itu memanjang sedikit_ Setiap kali Beteri habis berpantun bambu gading tadi memanjang lagi. Akhirnya, panjangnya sampai ke seberang, tempat Beteri tinggal. Seperti biasanya, setiap petang Naga pulang membawa rusa hasil perolehannya berburu. Lalu disuruhnya Beteri memasak rusa itu. Kemudian mereka makan bersama-sama. Sesudah makan. Naga bertanya kepada Beteri, "Beteri, sudah sebesar apakah hati engkau hari ini?" Beteri menjawab- "Baru sebesar biji sawi." "Aduh- masih kecil sekali." kata Naga. Sebelum Naga
berangkat. seperti biasanya, Beteri menagis. katanya. "Jari gatal, tangan gatal. leher gatal." Untuk membujuk Beteri yang sedang menangis diberikanlah cincin, gelang. dan kalung. Sesudah itu Sang Naga berangkat berburu. Ketika hari petang Sang Naga pulang membawa hasil perolehannya berburu. Disuruhnya Beteri memasak hasil buruannya. Kemudian mereka makan bersama-sama. Selesai makan, Sang Naga bertanya lagi dengan Beteri. Katanya, "Sudah sebesar apakah hatimu sekarang ini?" Beteri menjawab, "Sudah sebesar asahan." "Wah, besar sekali." kata Naga. Besok paginya Naga berpura-pura akan pergi berburu, padahal di berencana akan menyembelih Beteri. Ketika Sang Naga pergi menemui teman-temanya. Beteri berkemas untuk meninggalkan Pulau Naga. Sebelum meninggalkan rumah Naga, Beteri menyiramkan air sirih ke dalam rumah supaya Sang Naga berprasangka bahwa Beteri sudah disembelih oleh Naga lainnya. Setelah itu Beteri pergi naik bambu gading meninggalkan Pulau Naga. Sesampai di seberang, bambu gading tadi dipotong oleh Bateri supaya tidak diketahui oleh Naga. Sementara itu, Sang Naga dan teman-temannya pulang. Alangkah terkejutnya Sang Naga dan teman-temannya ketika tiba di rumah. Beteri sudah tidak ada lagi, dan rumah berhamburan dengan darah. Sang Naga berkata dengan teman temannya itu, "Kita sudah didahului oleh yang lain, lihat darah berhamburan." Melihat darah berhamburan tadi, teman teman Sang Naga pergi sambil marah-marah karena mereka merasa ditipu oleh Sang Naga.

Sesampai di seberang, ketika Beteri hendak pulang ke rumahnya. di tengah jalan menuju ke dusun dia bertemu dengan kerbau. Lalu kerbau berteriak menyampaikan berita ibu dan bapak Beteri. Kata kerbau, "Wak, .wak Beteri sudah pulang." lbu dan bapak Beteri selama ini tidak mau beranjak dari tempat tidurnya karena memikirkan Beteri. Lain keluar mendengar berita yang dibawa oleh kerbau. Kemudian ibu Beteri berkata. "Sudahlah kerbau jangan pembohong, Beteri tidak akan kembali, dia sudah meninggal."

Di perjalanan ketika akan pulang. Beteri bertemu dengan ayam. Ayam berkokok menyampaikan berita dengan bapak dan ibu Beteri. Hanya tanggapan bapak dan ibu Beteri sama seperti menanggapi kabar yang dibawa oleh kerbau tadi'.

Tak lama Beteri sampai di rumah, dilihatnya ibu dan bapaknya telah kurus sekali, badannya tidak terawat. Sampai sampai tikar tempat tidur ditumbuhi rumput tak dirasakannya lagi karena memikirkan Beteri. Bapak ibunya kemudian terjaga melihat Beteri benar-benar pulang. Mereka bertangisan, sangat terharu dan gembira karena bertemu kembali dengan anaknya yang disangkanya mati, mereka dimandikan oleh Beteri. Setelah mandi, badannya segar dan sehat kembali karena anaknya sudah pulang, dan sudah menjadi seorang gadis yang cantik, berpakaian bagus, dan memiliki banyak perhisan emas.

***
Sumber : Subadiono dkk. 1998. "Struktur Sastra Lisan Lematang". Laporan Penelitian.

ASAL MULA ADAT BIMBANG DI TANAH REJANG

Petikan dari buku :
Abdullah Sani, Pasirah Marga Bermani Ulu
Di ketik ulang oleh :
Winarno (FKIP UNIB fisika’07)

Alkisah menurut cerita dari orang tua- tua secara turun temurun,
pada zaman dahulu kala ,
sebelum ada adat aturan bimbang ,
keadaan kacau balau,
maka dengan takdir yang maha kuasa,
timbulah dari dasar laut satu “ BUN “ (geligo kaco).
Didalamnya berisi satu gadis seten nago kepitu,
anak semang nago rayo ,
kedudukanya dilaut nan segalo miring,
dalam seribu pitung ratus,
dalam selawe tukal benang ,
setahub ombaknya naik,
sebulan ombaknya turun,
dari situlah keluarnya Bun,
isinya ketepuk lawan tari,
berisi sambai lawan gadai,
adat lawan hukum,
keburi lawan minyak.
dipercaya dari sanalah asal mula adat turun pada tua batin ,
pada tua sambai ,
turun pada bujang gadis,
maka adat itu berkupuk – kupuk,
berkaum – kaum,
barulah kerja itu jadi.
Pada waktu itu turunlah dewa mengatur adat yang ada dalam Bun tersebut,
diantarannya dewa 7 wali 9 namanya gadis sekedidi didi ,
bujang sekedidam didam,
terbitnya dari bendaro bulan meluncur dari matahari,
terbitnyo tidak gandum ibu ,
terbitnyo tidak gandum bapo.
Bun belum juga terbuka maka dewa membaca mantra dimuka Bun
“ mendering marang mapo,
mapo diparang kindang,
mapo diparang kindang ari”
berdering Bun pun terbuka,
berisi ketepuk lawan tari,
adat lawan hukum ,
sambai lawan gadai,
barulah adat keluar.
Adat semata mata adat,
berisi bedak lawan pupur,
buri kelawan minyak,
sirih kelawan pinang,
bujang 40 suku rindu,
gadis 16 talen dendam.
Semua orang dalam balai iba menyanyi,
maka tarianpun dimulai.
Bimbang pertama di kersik seri dato,
mengawinkan Cerlik cerilang mato gadis seginde tarungi.
Dikandang dirawe – rawe bungo “ batas antara bujang dan gadis didalam balai “.
Dewa menetapkan pakaian untuk gadis,bujang,
nama tarian serta gerakan, nama lagu, tata tertib dan ketentuan lainya.


Cerita ini merupakan cerita turun temurun orang-orang tua pada zaman dahulu kala
Yaitu cerita MASDENE dan MASTEMON cerita SANG HYANG NAGA RAYA dan cerita dalam geritan.( a.sani 1954 )

Reference :
http://books.google.co.id/books?id=A-0iAAAAMAAJ&q=a+sani+rejang+1954&dq=a+sani+rejang+1954&pgis=1